Bangun Tidur

April 11, 2008

Beberapa hari ini aku sering bangun kesiangan. Bahkan Shubuhnya kebakaran. Udah lebih dari 5 hari ini selalu begitu. Mengesalkan…:-( Kenapa hidup begini-begini saja. Inginnnya semakin baik, tapi kok ada saja hambatannya. Hambatan itu gak dari mana2 seh. Yang jelas hambatannya dari diri sendiri. Malemnya aku selalu ada jadwal “diskusi.” Meski selama 5 hari berturut-turut selalu ada diskusi, aku heran mengapa tidak ada bosan-bosannya. Padahal pembicaraan juga kadang-kadang tetap di satu tema yang sama. Nama itu baru 3 bulan selalu merelungi hati. Nampaknya hampir sudah merajai hati ini. Ini namanya syirik kecil.

Semua pasti tahu segumpal darah yang saya maksud ini. Segumpal darah itu adalah hati yang berada di dada kita. Pengertian hati selama ini mempunyai beragam versi. Hati fisik adalah segumpal darah yang ada di sebelah kiri dada manusia yang menentukan perintah pada otak. Hati spiritual adalah hati yang sebenarnya. Hati yang menentukan segala gerak-gerak dan tingkah laku kita, segala apa yang kita pikirkan, segala yang memiliki kekuasaan atas mobilitas tubuh kita.

Selanjutnya akan saya bahas macam-macam hati ini. InsyaAllah besok aja deh. Udah ngantuk soalnya. Pas bukanya ini malem.

To be Continued

Perlu diketahui, redaksi majalah ini diurus oleh santri-santri kelas V TMI Al-Amien Prenduan yang notabene mereka masih berusia 17-18 tahun. Sekarang sudah sangat umum, anak-anak SMA dan MA menjadi jurnalis ataupun wartawan cilik ataupun wartawan sekolah. Namun itu tidak seberapa. Karena segment pasar majalah mereka hanya sebatas penghuni sekolah. Berbeda dengan di TMI AL-AMIEN PRENDUAN. Segment pasarnya sudah meluas menuju regional Madura.

Majalah Qalam dulu didirikan oleh Ust. Ahmadi Thoha. Sekarang beliau menjadi Pemred Majalah Gontor. Al-Amien Prenduan, meski kiyainya alumni Gontor, tapi bukan pondok filial Gontor. Hanya, banyak sekali keragamannya.

Malam ini adalah pemilihan ketua redaksinya. Anak-anaknya lucu. Mereka ada 5 formatur yang menjadi pengurus inti redaksi majalah ini selanjutnya.

Subhanallah…

Cobaan yang Allah berikan pada saya teramat berat. Mungkin ini tidak seberat yang Anda kira. Karena Anda bukan seperti saya, dan saya bukan seperti Anda. Setiap orang mempunyai kemampuan masing-masing dalam menakar bobot problem yang ia hadapi.

Benar memang kata seorang sahabat saya (ibu saya), “kalau kamu seperti ini terus, selamanya tidak akan berubah. Meski waktu mendewasakanmu”. Kata-kata ini sakti dan langsung membawa saya pada satu perubahan dahsyat dalam hidup ini. Barangkali saya perlu sedikit bercerita, problem apa yang sedang saya hadapi dan mengapa saya memberinya harga yang sangat mahal.

Awalnya saya menyesali mengapa terlahir sebagai orang yang serba kekurangan. Baik secara kepribadian dan material, maupun secara intelektual dan pengabdian. Hal ini membuat saya terus merasa tidak puas namun tanpa solusi dan aksi. Itulah mengapa saya semakin tertinggal jauh dari teman-teman saya, bahkan dari adik-adik kelas saya yang seharusnya mereka berguru pada saya. Keadaan ini membuat saya tidak sholat dan meninggalkan kewajiban agama serta banyak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. MasyaAllah memang… saya sangat jauh dari Allah.

Setelah membaca beberapa buku dan menelaah diri dengan muhasabah fardy di mesjid, saya menemukan satu permasalahan utama yang kali ini benar-benar ada dalam diri saya. Masalah itu adalah… Saya KUFUR. Saya sudah sampai derajat itu. Manusia yang melakukan maksiat melewati beberapa derajat. Sedangkan KUFUR ini adalah derajat tertinggi dari maksiat hati yang harus segera diobati. Saya ingin kembali pada Allah dan memelukNya erat. Saya ingin merinduNya lagi dan tidak bergelimang dalam kemaksiatan-kemaksiatan. Sungguh hati ini berat sekali ketika ada cahaya yang menuntun ke jalan itu. Banyak penolakan-penolakan timbul dalam hati saya. Saya menjadi hamba yang tidak pandai bersyukur dan menuntut banyak hal yang tidak ada pada diri saya. Lebih parahnya, saya juga menuntut ini pada orang lain. Memaksakan kehendak saya padanya seolah kalau tidak dituruti ia akan sangat kehilangan saya. Saya menempatkan diri saya pada posisi yang sangat berharga di mata orang lain. Padahal saya ini tidak ada apa-apanya. Saya ini kecil dan Allah lah yang MAHA BESAR. Allah yang berhak Besar.