Jadwal-jadwal

Mei 5, 2007

Setiap orang pasti menginginkan kepastian daripada kesemuan. Kesemuan hanya akan memberi harapan yang tak kunjung datang. Apa yang akan kita lakukan hari ini akan menjadi jelas, jika kita mengembangkan sebuah perencanaan. Ya, hanya dengan mengagendakan kegiatan-kegiatan kita hari ini, kita punya pegangan untuk melangkah. Tidak terjebak pada sebuah kesemuan. :)

Tidak sebatas langkah hari ini saja. Langkah-langkah selanjutnya, esok, 2 hari yang akan datang, seminggu yang akan datang, sebulan, bahkan setahun, 2 tahun, 3 tahun dan seterusnya. Kita punya standar yang pasti untuk mengukur diri kita dan sejauh mana perkembangan diri kita jika kita mempunyai perencanaan yang baik. Namun di balik semua rencana yang kita susun itu, kita sama sekali tidak berhak menentukan kepastiannya. Kita cukup bersyukur telah mendapatkan kesempatan mengukur dan menimbang apa yang akan kita lakukan di masa-masa mendatang.

Man purposes, God disposes.

Tidak hanya sebatas perencanaan pribadi, tapi juga untuk orang lain. Khususnya dalam wilayah instansional. Setiap orang mempunyai agenda-agenda kerja yang telah disusun oleh sebuah instansi untuk kita jalankan sebuah bentuk pengabdian atau profesi

Jadwalku padat. Aku mesti menyelesaikan beberapa tugas yang belum rampung-rampung juga dari kemarin. Tugas-tugas pondok. Tugas itu sendiri membuat jadwal-jadwal pelajaran. Kerja akademik. Hehehe… Mungkin di lain tempat orang-orang seusiaku tidak pernah melakukannya. Tapi itulah pekerjaanku sehari-hari. Membuat jadwal untuk orang banyak dan mengawasi jalannya jadwal tersebut. Sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di pondok pesantren Al-Amin Prenduan.

Tak ayal, selama kerja-kerja itu, waktu pribadiku terabaikan. Seharusnya aku bisa mengatur waktu dengan baik. Tapi aku sendiri kurang bisa berkomitmen dengan waktu. Aku bahkan menjanjikan banyak kerja. Memang aku dibutuhkan di banyak tempat. Banyak orang memintaku untuk begini dan begitu, melakukan sesuatu untuk mereka. Aku sangat menyesal kalau mengecewakan mereka. Dengan bermodalkan “tekad hebat”, semua tawaran untuk melakukan sebuah “pergerakan” positif aku lakukan. Aku mengiyakan semua tawaran. Akhirnya ketika semua bertumpuk dan kukira aku bisa mengerjakannya semua, jadi terbengkalai dan terpaksa harus mengundur waktu. Aku belum bisa benar-benar fokus ke satu hal saja. Terlalu banyak hal yang menjadi pikiranku dan ingin kuselesaikan semua meski tidak tuntas. Paling tidak pernah kujamah dengan tanganku walau untuk beberapa waktu saja.

Untungnya semua dapat aku kerjakan dengan baik. Meskipun menuai banyak protes dari beberapa kalangan, aku tidak menilai itu sebagai sebuah keluhan. Tapi pelecut bagiku untuk semakin berkembang dan sibuk. Hmm…. Aku suka kata-kata sibuk. Sangat menyenangkan.

Leave a Reply